Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pangkalan Gas LPG 3 kg Anto Kamali nakal jual di atas HET ke Pengecer Mendekati Lebaran

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:11 WIB Last Updated 2026-03-14T02:25:33Z


TANA TORAJA ---Gas LPG subsidi tiga kilogram dijual tidak sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) di Jl. Starda Kamali Pentalluan, Kec. Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan dengan harga mencapai Rp 25-26 ribu mendekati lebaran.


Pertamina terus melakukan penindakan tegas terhadap pangkalan LPG 3 kg yang menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, terutama menyusul larangan penjualan di tingkat pengecer mulai 1 Februari 2025. Harga yang dijual oknum pangkalan di kisaran Rp 24-26 ribu atau lebih adalah pelanggaran, mengingat HET pangkalan umumnya di kisaran Rp 18.000-Rp 20.000 per tabung, 


Hasil penelusuran pewarta CCTV di sejumlah pangkalan Herman Tambing Pemilik Anto di Makale, ada beberapa pangkalan yang menjual dengan harga Rp25 ribu hingga Rp26 ribu ke pengecer. Sehingga, para pengecer mengharuskan menjual dengan harga lebih tinggi ke masyarakat.


“Mahalnya harga gas LPG tiga kilogram ini sudah bertahan sekian lama tanpa mengalami penurunan. Padahal HET yang diatur pemerintah sebesar Rp 20.500 per tabung,” kata salah satu warga Kecamatan Makale, Safri, saat dikonfirmasi di Pangkalan Anto yang hendak membeli gas, Sabtu (14/3/2026).


Dia mengungkapkan biasanya beli eceran mulai dari harga Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu. Jika beli di pangkalan selalu tidak kebagian karena lebih duluan diambil para pengecer.


“Hal ini jelas menambah kesulitan ekonomi masyarakat. Di tambah harga bahan pokok lain di pasaran juga meningkat, sedangkan ekonomi masyarakat baik di pertanian maupun perkebunan juga terdampak,” ujarnya.


Saat dikonfirmasi pemilik pangkalan LPG Anto Kamali mengakui pihaknya menjual diatas het dan sudah lama kami jual 25 dan tidak sesuai dengan HET yang sudah dikeluarkan pemerintah untuk menjual diatas Het Rp.20.500. Ungkap Anto.


Papan nama pangkalan ditutupi pintu hingga tidak jelas dilihat masyarakat apa memang pangkalan atau tidak dan kurang jelas harga penjualan yang dilakukan pangkalan Anto karna tidak ada harga het dipasang.


Pada saat dikonfirmasi pak Anto pemilik pangkalan tiba-tiba istri pak Anto juga memfoto wartawan yang sedang  melakukan wawancara kepada pak Anto. Saat di tanya kenapa foto kami yang sedang melakukan wawancara jawab istri pak Anto tidak saya tidak foto-foto saya foto pisang untuk kirimkan orang yang mau beli pisang.


Masyarakat mengharap dalam hal ini  Pertamina dan APH menindak tegas ke pangkalan yang nakal dan diberi sangsi penutupan kalau masih melanggar menjual di atas HET.

Redaksi/Anis