TANA TORAJA---Kasus penyalahgunaan barcode pengisian bahan bakar minyak (BBM) kembali mencuat. Kali ini dialami Anis, salah satu pemilik kendaraan mobil dengan BBM solar di Tana Toraja. Saat hendak mengisi BBM, ia justru dikejutkan dengan informasi dari petugas SPBU.
“Maaf Pak, barcode Bapak sedang dipakai untuk pengisian BBM juga,” kata petugas, SPBU Tetebassi dan menunggu lagi pak untuk bisa mengisi solar sebagaimana ditirukan Anis. Sabtu (18/01/2026)
Pemilik kendaraan Anis mendatangi SPBU Minanga terkait barcode yang sedang dipakai di SPBU Minanga. Karna bukan kali ini saja tapi sudah berpakali terjadi barcode saya terpakai saya mau cari tahu siapa yang pakai barcode saya.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar. Bagaimana mungkin barcode pribadi, yang hanya tersimpan di aplikasi resmi milik Anis, bisa digunakan orang lain. Dari sinilah muncul dugaan kuat adanya permainan di tingkat SPBU.
Petugas SPBU disebut-sebut berpotensi ikut terlibat, baik dengan membocorkan data barcode maupun dengan sengaja memasukkan barcode pelanggan ke transaksi lain. Jika benar, praktik ini jelas merugikan masyarakat dan mengkhianati tujuan awal sistem digitalisasi BBM, yaitu agar distribusi lebih tepat sasaran dan transparan.
Kendati begitu, Anis sendiri tetap diizinkan mengisi, Rp150 ribu. Situasi ini semakin mempertegas bahwa ada celah dalam sistem, terutama pada pengawasan di lapangan.
Untuk mencegah kasus serupa terulang, Anis berharap perlu dilakukan Audit dan investigasi internal di SPBU guna memastikan tidak ada oknum yang bermain. Selain itu memberikan sanksi tegas terhadap petugas yang terbukti menyalahgunakan barcode pelanggan.
Kasus Anis hanyalah satu contoh. Namun, jika dugaan keterlibatan oknum petugas SPBU benar adanya, maka kepercayaan publik terhadap sistem barcode akan runtuh. Keamanan sistem tidak hanya ditentukan teknologi, tetapi juga integritas manusia yang menjalankannya. ( Sarip )

